Cakrawala JatimCakrawala KesehatanHeadline

Surabaya Siap Siaga Zoonosis, Dari Bakteri Tikus Hingga Bahaya Gigitan Hewan

×

Surabaya Siap Siaga Zoonosis, Dari Bakteri Tikus Hingga Bahaya Gigitan Hewan

Sebarkan artikel ini
Lokakarya Edukasi Pencegahan Penyakit Zoonosis yang digelar Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya.
Lokakarya Edukasi Pencegahan Penyakit Zoonosis yang digelar Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya.
Surabaya, CakrawalaNews.co | Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman penyakit zoonosis—penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia melalui kolaborasi lintas sektor secara masif. 
 
Langkah preventif ini diambil guna memastikan potensi wabah dapat dicegah sejak dini melalui penguatan sistem surveilans, komunikasi risiko, edukasi masyarakat, hingga koordinasi antarlembaga.
 
Komitmen tersebut diwujudkan melalui Lokakarya Edukasi Pencegahan Penyakit Zoonosis yang digelar Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya bersama Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes RI, Portal Kesehatan Masyarakat (Portkesmas), serta Pokja Risk Communication and Community Engagement (RCCE) pada 21-22 Juli 2026 di Puskesmas Medokan Ayu.
 
Agenda ini merangkul berbagai elemen, mulai dari OPD, instansi kesehatan, Ormas, TP PKK, PMI, PD Pasar Surya, puskesmas, puskeswan, hingga media untuk membangun mitigasi yang terintegrasi.
 
Kepala Bidang P2P Dinkes Kota Surabaya, dr. Atiek Tri Arini, menegaskan bahwa kunci utama membendung zoonosis menjadi wabah adalah kesiapsiagaan.
 
“Karena itu, Dinkes Surabaya terus memperkuat sistem surveilans, meningkatkan koordinasi dengan sektor kesehatan hewan dan lingkungan, serta mengintensifkan edukasi kepada masyarakat agar memahami risiko dan langkah pencegahan sejak dini,” kata dr. Atiek, Rabu (22/7/2026).
 
Memasuki musim hujan, ancaman penyakit leptospirosis menjadi perhatian khusus. Dinkes Surabaya telah menerbitkan surat edaran berkala ke UPT, kecamatan, hingga kelurahan untuk meningkatkan kewaspadaan genangan dan banjir. Warga pun diminta konsisten menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
 
“Kebiasaan ringan tapi dampaknya besar adalah cuci tangan. Sosialisasi ini terus kami lakukan mulai dari anak usia PAUD, pelajar, hingga akademisi. Dari satu perilaku kecil yang dilakukan secara konsisten, dampaknya sangat besar untuk mencegah penularan penyakit,” ujar dia.
dr. Atiek juga mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan karena area kotor menjadi sarang perkembangbiakan tikus sebagai pembawa utama bakteri leptospirosis.
 
“Tikus itu sukanya di tempat yang rungsep-rungsep atau kotor. Jika urine tikus mengenai kulit yang terluka atau kondisi kulit tidak utuh, bakteri leptospirosis bisa masuk ke dalam tubuh,” imbuhnya.
Masyarakat diimbau mengenali gejala awalnya, seperti demam tinggi dan nyeri tubuh tanpa batuk/pilek.
 
“Apabila kondisi berlanjut hingga mengalami gangguan buang air kecil, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan,” jelasnya.
 
Selain leptospirosis, kewaspadaan terhadap Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) terus ditingkatkan.
 
“Edukasi yang berkelanjutan, deteksi dini, dan respons cepat menjadi kunci untuk mencegah potensi terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB),” tegasnya.
 
Langkah ini sejalan dengan catatan Kemenkes bahwa sekitar 70 persen penyakit menular baru yang berpotensi menjadi wabah berasal dari hewan. Berdasarkan data Surveilans Kesehatan Daerah (SKDR), Surabaya mencatat rekor bersih dari suspek flu burung pada manusia maupun kasus antraks selama lima tahun terakhir (2021 hingga Minggu ke-27 Tahun 2026).
 
Namun, tren kasus leptospirosis dan GHPR masih berfluktuasi pada tahun 2025: 25 suspek leptospirosis & 40 kasus GHPR. Hingga Minggu ke-27 Tahun 2026: 14 suspek leptospirosis & 33 kasus GHPR.
 
“Meski demikian, masyarakat tidak perlu panik karena Surabaya bukan merupakan wilayah endemis rabies,” ungkapnya.
 
Perwakilan Bidang Kesehatan Hewan dan Kesmavet Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Surabaya, drh. Wafiroh, menambahkan bahwa sebagian besar penyakit zoonosis sebenarnya dapat dicegah jika warga paham jalur penularannya. 
 
Rabies akibat gigitan/cakaran anjing, kucing, monyet, atau kelelawar, misalnya, dapat ditekan melalui vaksinasi hewan peliharaan secara rutin saban tahun.
 
“Pada musim hujan, masyarakat juga diminta mewaspadai leptospirosis yang dapat menyebar melalui air yang terkontaminasi urine tikus. Penggunaan alas kaki tertutup saat beraktivitas di daerah tergenang menjadi salah satu langkah sederhana namun efektif untuk mencegah infeksi,” kata drh. Wafiroh.
 
Ia juga menyarankan warga menghindari kontak dengan unggas sakit atau mati mendadak demi mencegah flu burung, serta memasak daging dan telur hingga matang sempurna.
 
“Untuk mencegah penularan antraks, warga diimbau tidak menyembelih maupun mengonsumsi ternak yang sakit atau mati mendadak, serta segera melaporkan temuan tersebut kepada Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian agar dapat ditangani sesuai prosedur,” terangnya.
 
Program Manager Portkesmas, dr. Basra Ahmad Amru, menyebut Surabaya sebagai salah satu daerah prioritas strategi nasional pencegahan zoonosis selain Kabupaten Bandung Barat, Kota Bogor, Kabupaten Tangerang, dan Kabupaten Malang.
 
“Jangan sampai ketika wabah penyakit muncul, kita tidak siap. Koordinasi lintas sektor di tingkat daerah menjadi fondasi agar upaya pencegahan dan penanganan wabah dapat berjalan lebih cepat, terintegrasi, dan efektif,” kata dr. Basra.
 
Ketua Pokja RCCE Rizky Ika Syafitri menekankan bahwa informasi akurat yang sampai ke masyarakat adalah kunci vital penyelamat jiwa.
 
“Masyarakat berhak mendapatkan informasi yang benar dan dapat menyelamatkan jiwa. Informasi yang akurat, menarik, dan mudah dipahami akan mendorong masyarakat menerapkan perilaku pencegahan. Karena itu, selain tenaga kesehatan, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan media memiliki peran penting memastikan pesan kesehatan menjangkau seluruh lapisan masyarakat,” pungkasnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *