Cakrawalanews.co-Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) berkomitmen untuk mengoptimalkan serta memperluas penguatan skema kemitraan dan rantai pasok melalui program Holding UMKM pada tahun 2026.
Langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi besar untuk memperkokoh struktur usaha nasional agar lebih berkelanjutan.
Dalam pelaksanaannya, pemerintah fokus menjadikan usaha menengah sebagai poros utama yang menghubungkan usaha mikro dan kecil dalam satu ekosistem yang terintegrasi.
Deputi Bidang Usaha Menengah Kementerian UMKM, Bagus Rachman, menjelaskan bahwa pada tahun 2026 mendatang, kementerian akan mengembangkan setidaknya lima klaster strategis baru yang mencakup sektor sepak bola, pariwisata, pertanian, makan bergizi gratis, serta kesehatan dan kecantikan.
Sektor sepak bola bahkan telah memulai langkah awal melalui penandatanganan nota kesepahaman lintas kementerian pada Desember 2025, yang nantinya akan menjadi proyek percontohan sebelum direplikasi ke cabang olahraga lainnya.
Keberhasilan rencana di tahun 2026 ini berpijak pada capaian sepanjang tahun 2025, di mana program Holding UMKM telah berjalan pada klaster fesyen, kriya, serta kelautan dan perikanan.
Program tersebut telah melibatkan ratusan pemindang ikan, pengrajin, hingga pedagang perantara. Melalui wadah holding ini, pelaku usaha menengah diharapkan mampu membantu pelaku usaha kecil dalam mengatasi hambatan klasik seperti kendala produksi, keterbatasan modal, standarisasi mutu yang rendah, hingga lemahnya integrasi pemasaran.
Selain penguatan rantai pasok, Kementerian UMKM juga tengah menyiapkan skema pembiayaan inovatif yang lebih terstruktur bagi usaha menengah yang memiliki potensi besar. Pada tahun 2025 saja, terdapat puluhan usaha menengah yang berhasil dikurasi untuk mendapatkan akses finansial dari berbagai lembaga perbankan dan non-perbankan.
Program pendampingan ini bertujuan agar para pelaku usaha memiliki kesiapan finansial yang lebih matang dalam menghadapi persaingan pasar yang lebih luas.
Upaya mendorong UMKM untuk naik kelas juga diperkuat melalui kelanjutan program Rise to IPO pada tahun 2026 yang rencananya akan menyasar kota-kota besar seperti Surabaya, Bandung, dan Makassar.
Program ini memberikan kesempatan bagi perusahaan menengah untuk bertransformasi menjadi perusahaan terbuka yang lebih transparan dan kompetitif di bursa saham.
Dengan menjadi perusahaan terbuka, usaha menengah diharapkan mampu menjadi jangkar yang kuat dalam menopang ekosistem jutaan usaha mikro dan kecil di seluruh penjuru Indonesia. ( wa/an)



