Puguh menyebut bahwa hasil produksi ibu-ibu peserta bisa dikembangkan menjadi usaha mikro atau rumahan yang mandiri, bahkan bisa menciptakan pekerjaan baru bagi orang di sekitarnya. Dia pun menyebut telah bersepakat dengan anggota DPRD Kota Malang untuk membantu jalur distribusi produk agar hasil pelatihan bisa segera dipasarkan secara lebih luas.
Menurut Puguh, pelatihan semacam ini harus didukung dengan sinergi antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, dan pelaku usaha, agar dampaknya maksimal dan berkelanjutan.
“Program ini harus terus digencarkan. Bukan hanya pelatihan sekali dua kali, tetapi jadi bagian dari strategi jangka panjang mengurangi pengangguran serta menaikkan taraf hidup masyarakat,” ujarnya.
Data BPS menunjukkan penurunan TPT di Kabupaten Malang dari 5,70% menjadi 5,13% pada 2024. Tetapi Puguh mengingatkan bahwa penurunan ini bukan alasan untuk berhenti bekerja, justru harus menjadi momentum memperkuat upaya pemberdayaan dan investasi sumber daya manusia.
Dengan pelatihan yang tepat dan akses ke modal serta pasar, Puguh optimis bahwa lebih banyak warga Malang Raya bisa segera bangkit secara ekonomi, menurunkan angka pengangguran, dan memperkuat ekonomi lokal. (Caa)



