Dalam pidato sejarahnya saat menyerahkan Panji Unggul Jaya kepada KKO pada 15 November 1959, Bung Karno menegaskan nilai ideologis pengabdian pasukan amfibi itu.
“… Dan kamu daripada Korps Komando Angkatan Laut, telah menyabungkan jiwa ragamu… tak lain pada hakikatnya ialah untuk membela dan menegakkan sesuatu ide,” tutur Achmad menirukan ungkapan Soekarno kala itu.
Achmad menyebut warisan pemikiran Soekarno, termasuk gagasan Doktrin SSAT (Sistem Senjata Armada Terpadu), menjadi pondasi penting bagi strategi pertahanan modern Indonesia. Doktrin itu memadukan kekuatan kapal perang, pesawat udara, dan pasukan pendarat amfibi sebagai satu kesatuan operasi tempur.
“Sebagai negara maritim dunia, kita tidak boleh lengah. Marinir bukan hanya pasukan pendarat, tetapi inti kekuatan yang menjaga Indonesia tetap berdiri sebagai bangsa bahari,” ujarnya.



