Perjuangan itu terbayar lunas. Ummah lulus tepat waktu sebagai sarjana hukum. Ia mengaku memilih jurusan tersebut karena kerap melihat keluarganya berhadapan dengan persoalan sengketa. Ia ingin suatu saat mampu membantu keluarga dan memperjuangkan keadilan bagi orang lain.
Momen ketika nama Ummah dipanggil sebagai lulusan Fakultas Hukum menjadi titik paling haru. Heri dan putrinya tak mampu menahan tangis bahagia setelah bertahun-tahun melewati keterbatasan.
“Pertama kali saya melihat ayah menangis itu ketika rumah kami roboh. Sejak itu, saya bertekad ayah harus melihat saya sukses. Kalau beliau tidak pernah menyerah meski panas dan hujan, saya juga tidak boleh menyerah,” ucap Ummah sambil menitikkan air mata.
Rektor UMAHA turut menyoroti pentingnya membuka akses pendidikan bagi keluarga kurang mampu.
“Kami fasilitasi beasiswa KIP dari pemerintah dengan verifikasi ketat agar tepat sasaran. UMAHA juga memiliki sekitar 10 program beasiswa internal, mulai untuk perangkat desa hingga keluarga tidak mampu. Dua tahun terakhir terus kami pertahankan dan tingkatkan,” jelasnya.
Di hadapan para wisudawan, Hidayatulloh kembali menegaskan identitas kampus: Unggul dalam Adab. Ia menyebut akhlak sebagai fondasi utama kesuksesan lulusan UMAHA.












