Gus Halim juga menyoroti penetapan Marsinah — aktivis buruh perempuan asal Nganjuk — sebagai Pahlawan Nasional. “Marsinah adalah simbol perjuangan keadilan bagi kaum pekerja. Ia memimpin gerakan untuk menaikkan upah buruh, namun harus menghadapi tindakan yang tidak manusiawi hingga kehilangan nyawa,” tuturnya.
Menurut Gus Halim, perjuangan Marsinah mencerminkan keberanian perempuan dalam memperjuangkan hak-hak kemanusiaan di tengah ketidakadilan. “Kini, makamnya di Nganjuk menjadi saksi sejarah perjuangan itu. Alhamdulillah, perjuangannya kini diakui negara,” tambahnya.
Lebih lanjut, Gus Halim menekankan bahwa ketiga tokoh tersebut memiliki satu benang merah: kemanusiaan.
“Nilai utama dari mereka bertiga adalah kemanusiaan yang mengedepankan kasih sayang dan penghormatan terhadap sesama. Mereka melihat manusia tanpa sekat-sekat sosial, agama, atau ideologi,” pungkasnya. (Caa)












