“Ketua Komisi-nya waktu itu Pak Armuji, sekretarisnya Alvan. Kami solid. Tidak ada lagi sekat fraksi, semua berjuang untuk rakyat. Itu nilai yang saya bawa sampai ke DPR RI,” ujarnya.
Kini, setelah tiga periode menjadi anggota DPR RI, Adies menilai regenerasi politik di tubuh Partai Golkar berjalan baik. Munculnya banyak wajah muda di parlemen menjadi pertanda positif.
“Sekitar 60–70 persen anggota dewan sekarang adalah wajah baru. Itu artinya kaderisasi berjalan. Tapi regenerasi tidak cukup hanya ganti wajah, yang penting kerja nyatanya,” ujarnya.
Di penghujung kunjungannya, Adies berbicara tentang semangat baru Partai Golkar di usia ke-61 tahun. Tagline partai kini berubah menjadi “Suara Rakyat, Suara Golkar”.
“Artinya sederhana partai harus benar-benar turun ke bawah, menyerap aspirasi, dan bekerja nyata. Golkar harus hadir di tengah masyarakat, bukan hanya banyak bicara di ruang sidang,” tandasnya.
Bagi Adies, napak tilas ke DPRD Surabaya bukan sekadar perjalanan mengenang masa lalu, tetapi juga momen untuk kembali meneguhkan prinsip dasar politik yang ia yakini sejak awal: bahwa kekuasaan hanya akan bermakna jika digunakan untuk melayani rakyat.
“Dari gedung inilah saya belajar arti pengabdian. Dan dari rakyat Surabaya, saya belajar untuk tidak berhenti bekerja,” tutupnya.











