Saat itu, ia bersama anggota dewan lain memperjuangkan pengembalian aset milik Pemkot Surabaya yang sempat dikuasai pihak ketiga.
“Kami waktu itu seperti membuka kotak Pandora. Tidak mudah, tapi semangatnya satu: aset publik harus kembali ke rakyat. Dan alhamdulillah, perjuangan itu akhirnya berhasil di periode berikutnya,” ungkapnya.
Kepada kader muda Partai Golkar yang hadir dalam kesempatan itu diantaranya Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya Arif Fathoni, Achmad Nurdjayanto, Aldi Blaviandy, Adies menitipkan pesan sederhana namun sarat makna: menjadi politisi adalah soal pengabdian, bukan soal posisi.
“Kita ini pelayan rakyat. Kalau ingin dipilih kembali, ya layani masyarakat dengan sungguh-sungguh. Telepon, pesan, atau WA dari warga itu harus dijawab, sekecil apa pun persoalannya,” tegasnya.
Adies menambahkan, setiap anggota dewan seharusnya menyadari bahwa mereka hidup di bawah sorotan publik.
“Menjadi anggota dewan itu seperti hidup di dalam akuarium. Semua gerak-gerik kita bisa dilihat masyarakat. Karena itu, sikap dan kerja harus bisa dipercaya,” katanya.
Ia juga mengenang bagaimana suasana kerja di Komisi A DPRD Surabaya kala itu berjalan dengan semangat kekeluargaan lintas fraksi.












