“Orang tua harus memastikan anak-anak tidak terjerumus dalam kegiatan yang tidak bermanfaat atau bahkan merugikan. Kepedulian orang tua adalah kunci untuk mencegah generasi muda ikut-ikutan dalam aksi yang dapat menimbulkan keresahan,” ujarnya.
Fikser juga mengajak seluruh Organisasi Masyarakat (Ormas), Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), komunitas, hingga Ormas keagamaan dan budaya di Surabaya untuk bersama-sama menjaga kondusivitas kota.
Menurutnya, Surabaya adalah rumah bersama yang harus dijaga tanpa memandang asal-usul, agama, bahasa, atau status sosial.
“Semangat kebhinekaan adalah kekuatan utama kita untuk membangun Surabaya yang maju, humanis, dan berkeadilan. Mari kita teguhkan komitmen untuk menolak diskriminasi, intoleransi, maupun kekerasan berbasis identitas,” tuturnya.
Fikser menegaskan pentingnya memperkuat dialog, kolaborasi, dan gotong royong seluruh elemen masyarakat untuk mencegah potensi perpecahan.
Ia juga mendorong peran aktif tokoh agama, tokoh masyarakat, akademisi, dunia usaha, hingga generasi muda dalam memperkuat budaya toleransi.
“Surabaya harus tetap menjadi ruang hidup yang aman, nyaman, sejahtera, dan ramah bagi semua. Inilah rumah kita bersama, rumah yang membanggakan, dan harus terus kita jaga bersama,” pungkasnya.







