Menurutnya, pengembangan singkong sebagai bahan pangan alternatif dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap kebutuhan pangan lokal.
“Kalau ada lahan 35 hektar, produktivitas dalam sekali panen antara 30 ton singkong per hektar maka mencapai 1.050 ton setiap panen. Dalam satu tahun kalau dua kali panen maka kebutuhan pangan 20 persennya bisa dipenuhi dari Kota Surabaya sendiri,” pungkasnya.
Dia berharap gagasan ini dapat diadopsi oleh Pemkot Surabaya di bawah kepemimpinan Wali Kota Eri Cahyadi.
Achmad juga mendorong adanya riset bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mengembangkan produksi beras singkong yang murah, sehat, dan menyejahterakan petani.



