Lebih lanjut, Achmad berharap keberadaan JLLT dapat menjadi alternatif distribusi logistik sekaligus mengurangi beban jalan perkotaan yang selama ini padat dan mudah rusak akibat lalu lintas berat.
Selain proyek-proyek besar tersebut, ia juga menegaskan bahwa Pemerintah Kota Surabaya harus tetap memberi perhatian serius terhadap infrastruktur di kawasan perkampungan, seperti penanganan genangan dan perbaikan jalan lingkungan.
“Jangan sampai pembangunan hanya berpusat di tengah kota. Infrastruktur di perkampungan juga harus menjadi perhatian. Kalau ini bisa diwujudkan, insya Allah infrastruktur Surabaya akan tertata secara paripurna,” tandasnya.
Achmad menilai bahwa keseriusan Pemkot dalam menggarap JLLB dan JLLT akan menjadi tolak ukur keberhasilan pembangunan infrastruktur Surabaya secara keseluruhan.
“visi misi telah disampaikan dan kini saatnya warga diberikan bukti atas keberpihakan tersebut. Dan JLLB–JLLT adalah buktinya,” pungkasnya.
Sekadar informasi dalam pidato penyampaian visi misi wali kota Surabaya Eri Cahyadi di dalam rapat paripurna yang divelar di gedung DPRD Surabaya pada Senin (03/03/2025) memaparkan tantangan pengelolaan fiskal di Kota Surabaya masih cukup kompleks.
Beberapa sektor strategis membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Misalnya, penanganan banjir yang mendominasi wilayah perkampungan membutuhkan dana hingga Rp9,6 triliun.












