“Dari 51 persen warga NU di Surabaya, sebagian besar menjatuhkan pilihan pada PDIP. Karena partai ini terbukti membela rakyat kecil,” imbuhnya.
Tausiah penuh makna dari ustad Aris Yoyok menjadi penutup yang menyentuh. Disampaikan dengan gaya khas yang mengundang gelak tawa, ia mengingatkan bahwa Bung Karno tidak mewariskan harta, tetapi nilai luhur kebangsaan.
“Pak Karno tidak meninggalkan kekayaan materi. Tapi beliau mewariskan Pancasila, nasionalisme, dan cinta tanah air. Itu jauh lebih berharga dari apapun,” tutur Kyai Yoyok, yang disambut tepuk tangan hadirin.
Koordinator haul, Abdul Ghoni Mukhlas Ni’am, menyampaikan bahwa kegiatan ini dihadiri jajaran PAC, ranting, hingga anak ranting, serta tokoh-tokoh lintas agama. Haul ini, menurutnya, adalah ekspresi cinta terhadap bangsa dan warisan sejarah nasional.
“Kami ingin nilai-nilai perjuangan Bung Karno tetap hidup dan terajut secara nasional. Dan kami bersyukur atas kehadiran PCNU, yang menunjukkan kembali kedekatan historis NU dan Bung Karno,” terang Ghoni, yang juga menjabat Ketua Bamusi Kota Surabaya.
Ia juga mengingatkan kembali sejarah saat Bung Karno menerima gelar dari Muktamar NU di Surabaya sebagai bentuk pengakuan atas kontribusi beliau terhadap umat dan bangsa.
“Haul ini bukan milik satu golongan. Bung Karno milik seluruh bangsa. Dan ini adalah bentuk cinta kami kepada beliau dan negeri ini,” pungkas Ghoni.












