“Kalau ada anak yang (terjaring) ngelem atau ngobat, maka nanti kita tata dengan orang tuanya. Kita lakukan pendampingan, apakah itu di shelter atau di rumah sakit agar sampai bebas dari narkoba,” ujarnya.
Wali Kota Eri meyakini bahwa menyelesaikan masalah anak harus dilakukan dengan pendekatan menyeluruh, termasuk evaluasi peran orang tua dalam keluarga.
“Kalau ayahnya itu bisa memberikan ketenangan, maka ibunya ini akan bisa merawat anaknya. Jadi harus ada peran seorang ayah,” tuturnya.
Ketua Dewan Pengurus APEKSI ini menegaskan bahwa Program SOTH merupakan bagian penting dari strategi jangka panjang membangun ketahanan keluarga.
“Jadi kalau ada kenakalan anak, ada kesalahan anak, jangan dilimpahkan langsung ke anak. Tapi lihat dulu, saya (orang tuanya) ini sudah kasih contoh (yang baik) apa nggak?” katanya.
Sementara itu, Ketua TP PKK Surabaya, Rini Indriyani, menambahkan bahwa materi pada Program SOTH tahun 2025, fokus pada pentingnya peran ayah dalam pengasuhan anak.
“Ada sekitar 13 materi yang disampaikan. Salah satunya adalah materi tentang peran ayah di dalam pendidikan mendidik anak-anaknya,” ujar Bunda Rini.
Ia menyampaikan bahwa kebahagiaan ibu dalam merawat anak sangat ditentukan oleh sikap ayah terhadap istri dan anak-anak.
“Dalam penelitian, seorang istri, seorang ibu, itu akan bahagia ketika dia merawat anaknya itu ditentukan bagaimana sikap ayahnya atau suaminya kepada istrinya,” tuturnya.
Program SOTH terus dikembangkan oleh Pemkot Surabaya dengan materi yang relevan dan disesuaikan kebutuhan lapangan setiap tahunnya. Pada tahun 2025, materi peran ayah menjadi prioritas utama dengan menghadirkan para pejabat seperti lurah dan camat sebagai narasumber utama.
Bunda Rini berharap, pengalaman para pejabat sebagai kepala keluarga bisa menjadi inspirasi bagi peserta SOTH agar lebih memahami pentingnya kehadiran ayah dalam keluarga.






