“Untuk keluarga-keluarga yang memang tidak mampu membiayai sekolah anaknya, sehingga kami mengambil alih tanggung jawab pendidikan di sekolah ini,” paparnya.
Wali Kota Eri menyebut keberhasilan program RIAS merupakan hasil dari sinergi seluruh elemen masyarakat. Termasuk warga dan pengusaha yang bersedia menjadi orang tua asuh bagi anak-anak.
“Ini adalah gerakan bersama dari seluruh warga Surabaya yang mampu, mereka bersedia menjadi orang tua asuh. Ada yang membantu membayar biaya listrik, membayar tempat tidur, sehingga anak-anak ini mendapatkan fasilitas secara gratis,” jelasnya.

Program RIAS tidak hanya fokus pada aspek akademik, tetapi juga mengajarkan kedisiplinan dan keterampilan hidup. Semua aturan termasuk jam malam dan kewajiban beribadah telah disepakati dengan orang tua anak.
“Kami betul-betul ingin menciptakan anak-anak yang berakhlak. Karena kekuatan segalanya ternyata berasal dari akhlak, dari ucapan yang baik, tidak saling memfitnah, tidak saling menjatuhkan, namun saling menguatkan,” tegasnya.
Cak Eri-sapaan akrab Wali Kota Surabaya, juga menekankan pentingnya peran orang tua, khususnya ayah, dalam membentuk karakter anak. Bahkan, ia turut mengajar langsung dalam program Sekolah Orang Tua Hebat (SOTH) di Gedung Sumber Karya Wigati RW 8 Tambak Segaran Wetan 68, Surabaya pada Selasa (27/5/2025).
“Untuk itu, saya juga turun langsung mengajar di Sekolah Orang Tua Hebat tentang bagaimana peran ayah. Sebab, anak yang memiliki kasih sayang seorang ayah tidak akan mudah terjebak oleh bujuk rayu seseorang. Ini yang ingin saya kuatkan kepada para ayah,” imbuh Cak Eri.
Meski Surabaya telah meraih predikat Kota Layak Anak (KLA) Utama selama enam tahun berturut-turut, pemerintah kota tetap berkomitmen memperkuat pencegahan kenakalan remaja. Pendekatan dilakukan melalui pelibatan aktif orang tua, terutama ayah, dalam pendidikan karakter anak.
Menurut Cak Eri, anak perempuan yang dekat dengan ayah cenderung lebih kuat dalam menghadapi pengaruh negatif dari luar. “Jadi, peran seorang ayah ini akan bergantung sangat besar kepada keluarganya,” katanya.
Karena itu, Pemkot Surabaya kini juga fokus pada pendampingan psikologis dan sosial untuk orang tua demi menciptakan ketahanan keluarga. Strategi ini diharapkan dapat mendorong peningkatan status KLA Surabaya ke tingkat Paripurna, terutama melalui keterlibatan aktif dalam program Child Friendly Cities Initiative (CFCI) bersama UNICEF.






