Menurutnya, persoalan kurikulum merdeka itu, persoalan yang berat sekali bagi seorang guru. Guru itu disibukan administratif, sehingga guru ini tidak punya ruang yang banyak untuk mengeksplor kemampuan anak-anak dalam segi proses belajar mengajar. Tetapi, guru dihadapkan tugas yang harus selesai, karena itu menyangkut persoalan-persoalan lain-lain yang harus dipenuhi oleh seorang guru.
“Jadi, Harapan kita, betul-betul ini nanti memberikan ruang yang luas bagi siswa, memberikan guru juga leluasa di dalam proses mengajar, yang tidak disibukan pada persoalan-persoalan administratif. Walaupun belum terealisasasi. Pak Menteri masih menunggu masukan-masukan dari stakeholder ini terkait dengan pendidikan, bahkan beliaunya juga mengundang seluruh kepala dinas pendidikan. seluruh Indonesia terkait kurikulum deep learning dan terkait PPDB dengan zonasi.” jelasnya.
“Jadi itu yang sekarang masih dilakukan, mungkin dalam waktu dekat, tapi sampai saat ini kami belum mendapatkan informasi secara jelas terkait dengan kurikulum deep learning yang akan menggantikan kurikulum Merdeka.” tambahnya.
Terkait zonasi dari awal kan memang kontroversial. Sesungguhnya itu semangatnya itu kan bagus Karena apa? Biar anak-anak itu sekolah di lingkungannya Semangatnya kan begitu . Tapi faktanya pemerintah ini belum menyiapkan Posisi sekolah itu di lingkungan perumahan -perumahan itu. “Taruhlah di Surabaya, bayangkan di SMA itu aja ngumpul semua di komplek. Gimana anak yang di Demak sama Tandes itu. Di sana enggak ada sekolah SMA negeri. Seumur hidup mereka tidak akan bisa masuk sekolah negeri.”katanya.












