Dengan revitalisasi kesehatan yang dilakukan Pemkot Surabaya, masyarakat antusias mendatangi Pustu untuk skrining kesehatan. Bahkan, beberapa skrining dapat dilakukan di posyandu keluarga.
“Partisipasi masyarakat cukup bagus. Dari 2700 posyandu, ada 382 yang sudah bertransformasi menjadi posyandu keluarga. Target kami mencapai 100 persen pada tahun 2025,” ungkapnya.
Dengan gencarnya skrining, hasil deteksi dini potensi penyakit semakin meningkat. Hal ini mempermudah perencanaan intervensi kebijakan kesehatan. Masyarakat Kota Surabaya bisa langsung datang ke Pustu atau Puskesmas untuk skrining kesehatan.
“Tidak ada syarat tertentu untuk melakukan skrining, bisa langsung hadir. Sedangkan warga luar Kota Surabaya bisa mengakses layanan terdekat,” terangnya.
ILP juga melibatkan Kader Surabaya Hebat (KSH) dan tenaga kesehatan untuk jemput bola, dengan kunjungan rumah. “Para KSH melakukan ini setiap bulan, dan datanya tercatat di aplikasi Sayang Warga. Upaya promotif dan preventif rutin dilakukan untuk edukasi dan skrining berdasarkan siklus hidup,” tegas Chandra.
Kepala Puskesmas Sawah Pulo, dr. Gerryd Dina Soepardi, menambahkan bahwa ILP diperkenalkan di Kelurahan Ujung dengan kolaborasi lintas sektor. Masyarakat bisa mengakses Pustu tidak hanya saat sakit, tetapi juga untuk skrining potensi penyakit.












