“Perubahan ke arah Indonesia sentris bukan Jawa Sentris. Perubahan ke arah kebebasan berpendapat yang konstruktif dan merajut persatuan nasional bukan menghasut konflik horizontal dan menciptakan histeria publik. Perubahan ke arah penghargaan hak azasi manusia, perangi korupsi dan pemberantasan kemiskinan. Itulah tantangan sejarah yang harus dihadapi,” tutur Presiden RI Jokowi.
Seusai Upacara Peringatan Hari Pahlawan Tahun 2015, Gubernur Jatim Dr. H. Soekarwo mengatakan, nilai kepahlawanan dapat menjadi energi dan semangat untuk dapat menyelesaikan semua tantangan yang dihadapi.
Menurutnya, langkah besar dan semangat kepahlawanan para pendiri bangsa perlu dikumandangkan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk memberikan semangat dalam memajukan Indonesia.
“Momentum Hari Pahlawan menjadi langkah untuk membangun keyakinan dan optimism untuk dijadikan landasan revolusi karakter bagi bangsa Indonesia menjadi negara berdaulat, mandiri dan berkepribadian,” jelas Pakde Karwo sapaan lekatnya.
Pada Upacara Hari Pahlawan Tahun 2015, Presiden RI Jokowi memberikan gelar pahlawan nasional kepada lima orang tokoh pejuang kemerdekaan. Kelima tokoh tersebut memenuhi syarat pahlawan nasional sesuai UU No. 20 Tahun 2009 tentang gelar, tanda jasa dan tanda kehormatan.
Adapun lima nama itu adalah Bernard Wilhem Lapian dari Sulawesi Utara, Kemudian Mas Isman yang pernah membentuk organisasi pelajar bersenjata (TRIP); Komjem Pol Moehammad Jasin dari Jawa Timur yang merupakan bapak Brimob Indonesia; I Gusti Ngurah Made Agung yang merupakan Raja Badung VII, Bali. Kemudian, Ki Bagus Hadikusumo merupakan tokoh Muhammaddiyah yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah (1942-1953).
Upacara Hari Pahlawan Tahun 2015 juga diwarnai dengan pembacaan pesan-pesan dari enam pahlawan kemerdekaan. Pesan dari enam pahlawan ini dibacakan secara bergantian dalam upacara yang dipimpin langsung oleh Presiden Joko Widodo.












