Rudy juga menyebut bahwa pemilihan kepala daerah seharusnya menjadi ajang mencari pemimpin yang benar-benar memahami dan memperjuangkan kepentingan rakyat.
“Pilwali ini bukan sekadar panggung politik bagi para elit untuk berbagi kekuasaan. Kami berharap dengan kemenangan kotak kosong, pesan kami akan sampai ke telinga partai bahwa perubahan nyata diperlukan, bukan sekadar janji manis,” tegasnya.
Selain itu, Rudy mengkritik kebijakan Wali Kota Eri Cahyadi yang dinilai tidak konsisten, terutama terkait gaji tenaga kerja kontrak di Surabaya yang kini di bawah Upah Minimum Kota (UMK).
“Saat Risma masih menjabat, para tenaga kerja kontrak menerima gaji sesuai UMK. Namun, sejak Eri memimpin, gaji mereka bahkan ada yang hanya Rp3,6 juta hingga Rp4,2 juta,” tambah Rudy.
Rudy optimis bahwa dukungan untuk kotak kosong akan meluas di kalangan warga Surabaya. Ia menyebut bahwa pihaknya telah mempersiapkan relawan dan alat peraga untuk menyosialisasikan gerakan ini ke berbagai wilayah kota.



