Ia melanjutkan bahwa ilmu dalam bidang marketing yang dipelajarinya turut menggerakan pelayanan publik di Pemkot Surabaya. Wali Kota Eri pun tiada henti-hentinya meminta seluruh jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkup Pemkot Surabaya untuk keluar dari zona nyaman, sehingga bisa melahirkan beragam ide yang luar biasa.
“Saya sampaikan kita harus out of the box dengan menggunakan ilmu marketing. Dan ternyata semuanya berhasil dicapai dengan ilmu marketing yang luar biasa. Stunting turun, dan kemiskinan turun. Maka kita harus selalu kreatif dan inovatif, serta memiliki jiwa entrepreneur dan leadership. Terima kasih, ini menambahkan semangat Pemkot Surabaya untuk masyarakat,” lanjutnya
Selain itu, Pemkot Surabaya juga berhasil memboyong 5 penghargaan lainnya sekaligus, dalam kategori Government Techno Marketing Award 2024 Jawa Timur dari MarkPlus Institute. Pengarahan untuk kelima pelayanan publik berbasis digital itu, di antaranya aplikasi Padat Karya, Sayang Warga, Wargaku, SSW (Surabaya Single Window) Alfa, dan Command Center 112.
Keberhasilan lain yang diraih Pemkot Surabaya adalah mampu menekan angka prevalensi stunting di Kota Pahlawan, sehingga mengalami penurunan yang signifikan. Dari 28,9 persen atau sebanyak 6.722 balita yang terindikasi mengalami stunting pada tahun 2021, menjadi hanya 4,8 persen atau 923 balita pada tahun 2022.
Penurunan ini menjadikan Surabaya sebagai kota dengan prevalensi stunting terendah di Indonesia pada tahun tersebut. Bahkan, pada akhir April 2024, angka kasus stunting di Surabaya terus menurun menjadi 1,6 persen kasus.
“Ada lima aplikasi, salah satu contoh adalah kesehatan, bagaimana program tersebut disampaikan kepada masyarakat, lalu bisa terupdate kembali. Maka perlu inovasi digitalisasi,” jelasnya.













