Selain itu, ia sadar betul bahwa dirinya tidak akan pernah menjadi Wali Kota Surabaya tanpa ada orang-orang hebat yang menempanya selama berada di birokrasi atau sebelum menjadi Wali Kota Surabaya. Ia sangat ingat bagaimana dia ditempa selama berada di birokrasi dulu.
“Banyak yang menempa saya waktu itu, ada Pak Yasin yang biasanya saya panggil “Om” karena beliau juga tetangga saya sejak kecil, ada Pak Sri Mulyono yang membentuk karakter saya, ada Pak Mukhlas dan orang-orang hebat lainnya yang membentuk karakter saya, sehingga sekarang ini saya bisa menjadi Wali Kota Surabaya. Tanpa jenengan (Anda) semuanya, saya tidak akan pernah menjadi Wali Kota Surabaya,” ujarnya.
Yang paling dia ingat betul adalah almarhum Pak Totok Koesnindar yang mendidiknya kala itu. Menurutnya, saat itu dia dimasukkan ke satu ruangan selama enam bulan, tidak boleh keluar ruangan kecuali hanya untuk shalat. Di ruangan itu hanya disuruh membaca buku sebanyak-banyaknya.
Dari situlah dia sadar bahwa ternyata senior-seniornya di Pemkot Surabaya sudah berjuang sangat luar biasa, sehingga pada waktu menjadi Wali Kota Surabaya, ia menyampaikan kepada seluruh jajaran pemkot, sudah seyogyanya dan sudah sepantasnya perjuangan senior-senior itu dihormati, sehingga digelarlah acara halal bihalal ini.












