“Dalam sebulan kita tidak pergi melaut selama dua minggu, ketika tidak ada air pasang yang besar. Karena perahu tidak bisa bergerak, akibat terjebak lumpur. Ketinggian lumpur sudah sekitar 1 meter,” ujarnya.
Lebih lanjut menurut Fathur, ketinggian lumpur bertambah kalau dibandingkan 8 tahun lalu, yang baru sekitar setengah meter. Bertambahnya sendimen lumpur juga mulai terjadi di kawasan nelayan Bulak Cupat.
“Kalau tidak melaut, nelayan disini cari kerja sampingan. Seperti jadi kuli batu atau kuli bangunan. Ya untuk menutupi kebutuhan hidup. Karena selama ini penghasilan kami sebagai nelayan minus mas,” imbuh Fathur.
Karenanya Fathur berharap Pemkot Surabaya melakukan pengerukan dengan membuat hilir, sebagai sarana lalu-lintas perahu nelayan.












