“Beberapa argumen yang disampaikan terkait dengan pilihan responden adalah untuk membuka ruang politik yang pro gender, kehadiran perempuan di posisi strategis, pentingnya tokoh perempuan di posisi strategis untuk memperjuangkan kepentingan kaum perempuan,” kata Mheky.
Adapun terkait dengan pertanyaan apakah responden akan memilih pasangan capres-cawapres berdasarkan pertimbangan representasi NU, temuan survei Dialektika Institute menunjukkan bahwa sebanyak 21,2% responden akan memilih capres-cawapres representasi NU. Sementara 5,6% responden menyatakan akan memilih capres-cawapres representasi bukan NU, dan 73,2% responden memilih netral.
Selanjutnya, temuan survei Dialektika Institute terkait dengan pengukuran elektabilitas cawapres perempuan dengan menguji 5 nama melalui simulasi pertanyaan tertutup “Jika Pilpres 2024 dilakukan hari ini anda akan memilih Cawapres siapa?” diperoleh temuan sebanyak 27,6% responden memilih Yenny Wahid. Kemudian, sebanyak 25,4% responden memilih Khofifah Indar parawansa, 14,9% responden memilih Puan Maharani, 12,6% responden memilih Susi Pudjiastuti, dan 8,5% responden memilih Sri Mulyani. Sebanyak 11% responden belum menentukan pilihan.
Menanggapi hasil survey tersebut, Dr. Lia Istifhama, Politisi dan Aktivis Perempuan mengatakan bahwa munculnya dua tokoh Yenny Wahid dan Khofifah karena, kedua tokoh tersebut itu memang selalu ngemong warga NU.
“Tokoh NU dimana-mana harus selalu bisa ngemong. Yenny Wahid dan Khofifah elektabilitas tinggi banyak dipilih warga NU ya karena keduanya bis angemong Masyarakat NU,” kata Lia.











