Sedangkan penyumbang tertinggi dari PMDN adalah sektor perumahan, kawasan industri dan perkantoran sebesar Rp 3,58 triliun, lalu sektor transportasi, gudang dan telekomunikasi sebesar Rp 1,53 triliun, dan disusul oleh sektor perdagangan dan reparasi sebesar Rp794,2 miliar. Selanjutnya di sektor kontruksi sebesar Rp 791,3 miliar, lalu hotel dan restoran menyusul dengan capaian sebesar Rp 721,9 miliar.
Sementara penyumbang tertinggi dari UMK adalah sektor perdagangan dan reparasi sebesar Rp 2,13 triliun, lalu jasa lainnya sebesar Rp 901,3 miliar, dan disusul oleh sektor konstruksi sebesar Rp 550,27 miliar, kemudian sektor transportasi, gudang dan telekomunikasi sebesar Rp 423,3 miliar, selanjutnya sektor hotel dan restoran sebesar Rp 253,8 miliar.
“Alhamdulillah PMDN Surabaya tertinggi se-Jawa Timur, ini menunjukkan bahwa minat investor tanah air masih tinggi dibandingkan investor dari luar negeri,” tegasnya.
Selain itu, Afghani juga menjelaskan bahwa salah satu upaya untuk meningkatkan nilai investasi di Kota Surabaya adalah dengan memberikan kemudahan perizinan kepada para investor. Bentuk kemudahan yang diberikan seperti pengurusan perizinan berusaha seluruhnya dilaksanakan secara online melalui system OSS (Online Single Submission) dan SSW (Surabaya Single Window) ALFA.












