Sementara selama ini, menurut Meimura masyarakat yang menyaksikan kesenian rakyat “Ludruk” menginginkan tempat pertunjukkan bagus, indah dan sebagainya.
Sedangkan, kelompok kesenian ludruk, hanya memikirkan, bagaim,ana agar pertunjukkannya bagus.
Ia menegaskan, kalau ludruk menjadi destinasi wisata kota Surabaya semestinya dibuatkan tempat yang layak, karena kesenian tersebut spesifik.
“ Ada proses pelatihannya, perlu tinggal di sana, dan tidak bisa satu gedung banyak yang main disana,” paparnya.
Ia menbandingkan dengan kesenian di jepang, yang bernama Kabuki. Kesenian tersebut telah dianggap sebagai kekayaan tak benda oleh Bangsa jepang.
Sementara, kesenian Ludruk yang lahirnya awalnya dari besutan kemudian berkembang menjadi ludruk sandiwara, yang didalamnya menyajikan tari, paduan suara, lawak dan ada ceritanya kondisinya malah berbeda.
“Padahal ludruk menyuarakan pikiran rakyat, sehingga bisa ditularkan ke generasi ke generasi,” tandasnya.
Meimura mengungkapkan, kesenian ludruk Irama budaya di THR setiap tahun kedatangan peneliti dari luar negeri yang akan melakukan riset tentang kesenian tradisional ini.












