Warga membeli air dari pedagang kelililing, untuk keperluan mencuci, masak, mandi dan keperluan rumah tangga lainnya. Setiap bulan mereka menghabiskan uang Rp 500 ribu sampai Rp 600 ribu. Kalau tidak ada penjual air keliling, digunakanlah air galon isi ulang.
Keluhan warga ini disampaikan ke Wakil Ketua Komisi B Anas Karno yang mendatangi perkampungan tersebut, pada Sabtu (30/07/2022).
Bahkan warga juga mengatakan, meski tidak mendapatkan aliran air PDAM, mereka tetap harus membayar biaya abonement. Yang nilainya bertambah mahal, dari sekitar Rp 18 ribu menjadi Rp 60 ribu, sejak Mei 2022.(hadi)



