“Karena itu terbuat dari minyak bumi dan ditambahkan bahan kimia adiktif berbahaya. Makanya sangat membahayakan kesehatan kita, bisa menambah jumlah kematian dan mikro plastik ini bentuknya sangat kecil. Sehingga sangat mudah masuk ke tubuh kita, entah lewat kacamata, HP atau masker kita,” kata Nina.
Di sisi lain, Nina menyebut, bahayanya mikroplastik ini akan menyerap atau mengikat polutan-polutan di sekitar. Mulai dari pestisida hingga logam berat itu semua menempel dengan mikro plastik yang kemudian bisa dihirup dan berdampak pada kesehatan manusia. Oleh sebabnya, ia mendukung penuh kegiatan yang dilakukan POTAS bersama dengan Komunitas Nol Sampah.
“Terutama di Hari Bumi dan Bulan Suci Ramadan ini kita sama-sama menyelamatkan bumi kita dengan cara mengurangi penggunaan plastik sekali pakai,” jelas dia.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya Agus Hebi Djuniantoro menambahkan, Perwali Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik di Kota Surabaya telah diimplementasikan sejak 9 April 2022. Bahkan sebelumnya, Perwali ini telah disosialisasikan ke pasar modern, swalayan, restoran hingga hotel.
“Kantong plastik menjadi amanah UU Lingkungan Hidup Nomor 18, ada turunannya sampai keputusan menteri dan Perda. Nah, di Perda ini diatur dengan Perwali. Akhirnya ada Perwali Surabaya Nomor 16 tahun 2022,” kata Hebi.
Oleh karenanya, Hebi mengapresiasi kegiatan yang dilakukan POTAS bersama dengan Komunitas Nol Sampah. Pemkot pun mengucapkan terima kasih, karena wartawan di Surabaya juga turut peduli terhadap lingkungan dan mendukung kebijakan Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik.



