Eko menjelaskan, pengerukan bozem dan sungai ini dilakukan secara berkala dua kali dalam setahun. Untuk proses pengerjaannya, DSDABM butuh waktu sebulan untuk mengeruk bozem dan sungai di Kota Surabaya.
Jika tidak dilakukan pengerukan secara rutin, lanjut Eko, maka bozem dan sungai akan kembali dangkal sehingga tidak mampu menampung air.
“Bozem itu akan penuh, menampung sedimen air dari waktu ke waktu. Kalau itu mengendap, maka membuat bozem atau sungai menjadi dangkal. Kalau bozem sudah tidak efektif lagi menampung air, maka kita keruk lagi,” paparnya.













