Untuk nilai insentif itu, Wali Kota Eri menyebut nilainya pada 2022 naik. Jika pada 2021 sebesar Rp 600 ribu per bulan, pada 2022 naik menjadi Rp 800 ribu per bulan.
“Nanti untuk para hafidz saya minta untuk menjadi imam salat di masjid dan mushola di kampung-kampung. Harapan saya, dengan adanya doa dari para kiai, doa para hafidz di setiap masjid dan musholla akan mendapat berkah dari Allah SWT,” ujar Wali Kota Eri.
Dia meyakini, Surabaya tidak akan pernah menjadi kota yang hebat jika kiai dan ulamanya tidak pernah mendoakan kotanya dan mendoakan umaronya. “Sekuat apapun umaronya, jika ulamanya tidak mendoakan umaronya tidak akan terwujud kota yang baldatun thoyyibatun warobbun ghofur,” ungkapnya.
Pemberian insentif ini, lanjut Wali Kota Eri, tidak hanya diberikan kepada para penghafal Alquran saja. Tapi juga diberikan bagi semua penghafal kitab suci. Harapannya akan banyak lagi warga Surabaya yang ingin menghafal kitab suci.
Wali Kota Eri mengatakan, ke depan ia berencana menggelar istighosah di setiap kelurahan secara serentak. “Nanti saat istighosah itu dihadiri para kiai dan ulama. Doa bersama dengan istighosah di setiap kelurahan. Saya yakin dengan doa-doa itu, Surabaya akan menjadi lebih adem. Penyakit-penyakit akan hilang,” tandasnya.



