“Sangat jelas, kami mengedepankan teguran simpatik guna menyadarkan pengguna jalan. Tapi, masih banyak jumlah pelanggaran yang kita jumpai. Segmen pekerjaan sebagai karyawan swasta dan pelajar mendominasi pelanggaran lalu lintas. Dan kebanyakan dari mereka menggunakan sepeda motor,” kata Frans, Rabu (22/3).
Ia menjelaskan, Operasi Simpatik berbeda dengan Operasi Zebra dan Patuh. Operasi ini mengedepankan terguran, bukan tindakan hukum. Namun masih banyak dijumpai jumlah pelanggarannya. Untuk klasifikasi usia, antara usia 16-25 mendominasi pelanggaran dengan jumlah 76.934. Sepanjutnya, terbanyak kedua ditempati pelanggar dengan usia antara 26-45, dengan jumlah total 68.949.
Menurutnya, usia tersebut merupakan usia-usia pelajar. Karena itu, pihaknya mengimbau kepada pelajar untuk kesadarannya dalam menaati tata tertib lalu lintas di jalan raya. Sebab, jumlah kecelakaan lalu lintas mencapai 1.108 kasus. Dengan klasifikasi korban mengalami luka ringan sebanyak 1.543 dan korban meninggal dunia sebanyak 152 orang. Jumlah meninggal dunia pada 20 hari pelaksanaan Operasi Simpatik Semeru 2017 sangatlah tinggi.












