Pertimbangan lainnya, UPT P3LLAJ Lamongan yang membawahi tiga terminal yakni terminal Bojonegoro, Tuban dan Lamongan, dua diantaranya sudah bagus bahkan statusnya meningkat menjadi terminal tipe A yakni terminal Tuban dan Bojonegoro.
“Jadi tinggal terminal Lamongan yang kondisinya belum ada perubahan yang mencolok. Kalau fasilitas terminal itu dilengkapi maka masyarakat akan datang dengan sendirinya sehingga terminal menjadi ramai dan angkutan umum juga banyak yang mau masuk ke terminal,” dalih Darsono.
Ia mengakui bus yang masuk ke terminal Lamongan hanya bus AKAP dan AKDP klas ekonomi serta minibus dari Babat, Paciran dan Mantub serta Mojokerto. “Kalau sarana dan prasarananya dilengkapi otomatis bus akan semakin banyak yang masuk ke terminal karena ada agen-agen tiket akan semakin banyak,” imbuhnya.
Kasi Sarana dan Prasarana Dishub Jatim, Ainur Rofik menambahkan bahwa masterplant pengembangan terminal tipe B Lamongan ini sudah ada, dimana nantinya fasilitas-fasilitas yang masih kurang akan dilengkapi. Misalnya, soal jalur keberangkatan bisa dari Lamongan ke Mojokerto atau Lamongan ke Paciran.
“Rencana sudah ada, tinggal eksekusinya saja karena Pemprov Jatim saat ini masih konsentrasi untuk penanganan pandemi Covid-19, sehingga InsyaAllah tahun depan bisa dimulai,” kata Rofik.
Soal berapa anggaran yang dibutuhkan untuk pengembangan terminal Lamongan? Dengan diplomatis Rofik menyatakan masih belum dilakukan detail engineering design sehingga belum bisa diketahui angka pastinya berapa kebutuhan masing-masing terminal.
“Kalau pengembangan ini sudah jadi, maka terminal Lamongan akan sama dengan terminal di Nganjuk, Maospati dan Mojokerto,” imbuhnya.












