Saat ini di Sumatera Utara, UNPAB telah dikenal sebagai kampus yang ikut mempelopori dan memotori aplikasi eco-enzyme di masyarakat, dengan konsisten, dan dengan skala yang cukup besar. Di “bengkel” Bagian Taman dan Kebersihan, setiap harinya diproses beratus-ratus liter fermentasi sampah organik untuk membuat eco-enzyme.
Pada situasi covid-19 ini, di kampus UNPAB eco-enzyme juga banyak digunakan sebagai pengganti desinfektan, baik untuk bilik sterilisasi yang aman bagi manusia, juga untuk penyemprotan ruangan dan area publik sebagai pengganti desinfektan, serta sebagai sanitizer dan antiseptic.
Bang Jumadi pun secara pribadi tak kenal lelah mengujicoba eco-enzyme ini. Kini bapak dua orang putri ini tengah menggarap 1/4 hektar lahan pertanian padi miliknya dengan eco-enzyme, tanpa pupuk kimia dan pestisida. Keluarga pria kelahiran Kota Rantang, Hamparan Perak, Deli Serdang, Sumatera Utara, 47 tahun yang lalu ini, di rumahnya juga selalu menggunakan eco-enzyme untuk segala keperluan rumah tangga sehari-hari.
Dengan mempertimbangkan berbagai manfaatnya yang luar biasa, maka sudah saatnya eco-enzym dengan berbagai varian proses dan kombinasi bahannya, bisa diprioritaskan untuk diriset lebih mendalam oleh kampus, sebagai penelitian akademik yang bakal tak ada habisnya diriset, untuk berbagai disiplin ilmu. Demi lestarinya alam dan lingkungan hidup, serta bagi kemaslahatan masyarakat.
Selamat berkarya dan berjuang untuk Bang Jumadi dan tim, serta bagi segenap relawan eco-enzyme, dan para pejuang lingkungan hidup di seluruh penjuru nusantara. Salam lesteri












