“Ingat yang terdampak itu hampir semua lapisan masyarakat. Saya sangat prihatin kinerja PLN kalau seperti ini. Saya harap kedepan perusahaan milik negara ini mampu memberi pelayanan yang humanis atau ramah terhadap masyarakat pelanggan,” ujara Mbak Mitha, sapaan akrab Paramitha Widya Kusuma.
Ia menambahkan, mesin penggerak ekonomi bangsa saat ini sedang tidak bekerja maksimal akibat wabah covid-19. PLN harus membentuk team pengendali pasar karena produk listrik sudah berlebih. Ia berharap PLN menciptakan program inovatif dan pro rakyat, tidak malah menambah kegaduhan di tengah masyarakat.
“Terus itu ya .. PLN jangan suka nakut nakuti. Kalau nagih pakai bahasa yang baik lah. Masa bilangnya -Jika tanggal sekian tidak bayar, maka akan dicabut- Itu bahasa yang bikin pelanggan marah dan tersinggung,” pungkasnya.
Terpisah salah satu pelanggan PLN Ajeng Kania Permanik asal Brebes mengaku pasrah terhadap kenaikan tagihan listrik rumahnya. Kali ini ia harus membayar tagihan mencapai Rp750 ribu dari biasanya sekitar Rp200 ribuan per bulan.












