Kadinsos Surabaya Supomo mengatakan, penentuan anak yang didamping berdasarkan data anak putus sekolah maupun rentan putus sekolah yang diperoleh dari kelurahan. Selanjutnya, para kakak asuh rutin bertatap muka dengan adik asuh setiap harinya.
“Dalam program ini, semua mahasiswa yang terlibat tidak dibayar. Mereka murni menjalankan tugasnya sebagai relawan. Adapun dukungan dana berasal dari masing-masing kampus guna menunjang program-program pendampingan,” tutur mantan Camat Kenjeran ini saat dijumpai di acara silaturahmi program CSR di kediaman walikota, Kamis (17/9).
Sementara, menurut Walikota Tri Rismaharini, keunggulan program CSR ini adalah kentalnya unsur kedekatan antara kakak dan adik asuh. Rentang usia yang tidak terlalu jauh, kata Risma -sapaan Tri Rismaharini- membuat pola komunikasi menjadi lebih mudah. Dengan demikian, kakak asuh bisa masuk lebih dalam untuk membantu adik asuh mengatasi permasalahannya. “Makanya, ini bukan semata masalah uang saja, tapi masalah kedekatan,” ungkap dia.












