Menurut Pakde Karwo, perkiraan biaya kegiatan tata kelola irigasi secara keseluruhan senilai Rp.2.400.000.000.000,00. Rinciannya, kegiatan rehabilitasi jaringan irigasi sebesar Rp. 2.300.000.000.000,00 untuk perbaikan bendung – bendung 470 buah, saluran primer dan sekunder 90.000 ha dan tingkat tersier 250.000 ha. Kegiatan operasi dan pemeliharaan irigasi sebesar Rp. 100.000.000.000,00 untuk OP primer dan sekunder 280.000 ha dan tingkat tersier 95.000 ha.
Adapun biaya yang diperlukan untuk tambah luas tanam tersebut adalah sebesar Rp.3.045.000.000.000,00 (tiga triliun empat puluh lima milyar rupiah) dengan rincian Pembangunan Infrastruktur pengendali banjir sebesar Rp. 1.750.000.000.000,00, Normalisasi Tampungan Air (Waduk/embung) sebesar Rp. 500.000.000.000,00, dan Pengembangan Jaringan Irigasi sebesar Rp. 795.000.000.000,00.
“Dengan penambahan luas tanam sebesar 76.500 Hektar dengan asumsi provitas padi 6 ton per Hektar, maka akan didapatkan peningkatan produksi padi sebesar 459.000 ton atau sebesar 279.990 ton Gabah Kering untuk sekali panen. Kemudian Indeks Pertanaman (IP) kita akan meningkat dari 2,2 jadi 2,4” katanya.
Masih menurut Pakde Karwo, meski saat ini infrastruktur irigasi di Jatim belum optimal, namun kinerja produksi padi Jatim tetap meningkat, pada 2016 lalu mencapai 13.540.950 ton, meningkat dari tahun 2015 yang mencapai 13.154.967 ton. Selain itu, Jatim juga masih surplus 5,2 juta ton beras pada 2016.
Menanggapi permintaan Pakde Karwo, Menteri Pertanian RI, Amran Sulaiman mengatakan, pihaknya sepakat bahwa perbaikan saluran irigasi merupakan prioritas utama pembangunan pertanian di Jatim.
Pasalnya, Jatim telah membuktikan kinerja pertanian yang luar biasa. Karena itu, pihaknya mendukung sepenuhnya upaya Pakde Karwo dan akan berkordinasi dengan Menteri PU untuk perbaikan infrastruktur irigasi di Jatim.



