“Ketika petugas itu capek, maka manajemen provinsi dalam hal ini BNPB mestinya tidak bisa begitu capek lalu tidak bisa diteruskan (swab). Ini tidak bisa dikatakan seperti kerja borongan, yang lalu capek kemudian libur dulu. Sebab, kita kejar-kejaran dengan virus yang terus bermutasi, terus berkembang, dan terus melakukan infeksi. Sementara kita mengejar dan lalu berhenti, tapi virus jalan,” paparnya.
Maka dari itu, ia berharap kepada Provinsi Jatim agar laporan hasil data swab warga Surabaya ini bisa disampaikan dengan cepat, akurat dan detail.
“Jangan sampai ada kesan bahwa provinsi dalam hal ini BNPB menghambat data hasil identifikasi swab yang ada di Surabaya, ini menyandera. Kalau memang itu dilakukan, jangan sampai itu. Tapi harapan kami tidak ada itu,” kata dia
Nah, untuk memastikan apakah Provinsi Jatim melakukan hal itu, ia menyatakan bakal berkoordinasi dan menggelar audiensi dengan mereka.
Tujuannya, supaya pikiran-pikiran perspektif yang berkembang di masyarakat bahwa Pemprov Jatim memang sengaja membuat Surabaya menjadi seperti Wuhan jangan sampai itu seolah-olah memang didesain.
“Tetapi ketika memang itu ada masalah, maka harus diselesaikan dengan lebih bertanggungjawab. Makanya saya akan coba besok koordinasi dengan provinsi, kami akan audiensi dengan beliau-beliau yang ada di sana untuk mendapatkan penjelasan itu,” ungkapnya.
Meski begitu, AH Thony juga mendorong masyarakat khususnya warga Kota Surabaya untuk bersama-bersama membantu pemerintah dalam menyelesaikan masalah ini. Ia pun berkaca pada perjuangan para pahlawan terdahulu yang bersama-sama mempertahankan perlawanan melawan para penjajah.












