Menurutnya, salah satu permasalahan di Jatim ke depan adalah soal keputusan politik. Faktor eksternal pembangunan salah satunya adalah konsep politik aman dan nyaman. Pembangunan di Jatim harus berubah menjadi pembangunan di bidang industri. Kalau tidak, Jatim tidak akan maju. Kedua adalah masalah UMKM yakni di di bidang industri agro.
“Kalau kita mau naik ke middle income, harus diurus betul. Sekarang 3500 kalau tidak diurus bisa jadi 2700,” katanya.
Menurut Pakde Karwo, tantangan saat ini yakni pada sektor pertanian, sektor industri dan sektor perdagangan. Di sektor pertanian, mutasi lahan sekitar 1.100 hektar per tahun, untuk sektor industri impor bahan baku masih tinggi yakni sebesar 79,83 persen, serta tantangan di sektor perdagangan berupa biaya logistik yang masih tinggi.
Ia melaporkan pertumbuhan ekonomi Jatim akhir 2016 sebesar 5,6 persen. Indeks tendensi konsumen bagus yakni sebesar 107,35 , yang artinya daya beli masyarakat bagus. Untuk indeks tendensi bisnis masih cukup baik yakni 106,29. Selanjutnya menurut Bank Indonesia, prediksi pertumbuhan ekonomi Jatim di 2017 sekitar 5,6 – 6,1 persen. Sedangkan menurut Pemprov Jatim adalah 5,6 – 5,8 persen.
Ia menambahkan, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, segmen usaha kecil harus dibantu. Kemudian pengusaha besar diberikan fasilitas melalui regulasi. Tidak ada UU yang mendorong ekonomi secara fokus. “Ada konsep baru yang sekarang dikembangkan di Eropa Barat yakni re-regulasi. Jadi harus ada UU yang fokus melayani soal bisnis. Saya usul yang dimaksud negara hadir adalah terhadap yang kecil, yang besar melalui regulasi,” katanya.












