Lebih lanjut, Pakde Karwo mengusulkan basis pertama yang harus dibenahi adalah industri agro. Yakni jangan menjual bahan baku tapi hasil agro yang sudah diolah. Kedua, memperkuat basis UMKM kita di bidang industri. Selain itu basis vokasional juga harus dikuatkan. “Kami mengusulkan konsep fiskal, dimana sektor miskin itu afirmatif, harus melalui charity/hibah. Hibah harus diberikan pada miskin. Yang tengah, segmen UMKM diberikan suku bunga kecil, baru yang besar diberikan fasilitas regulasi. Ini strategi fiskal yang harus dibangun dalam situasi saat ini, apalagi infrastrukturnya tidak menghasilkan sesuatu. Solusi pembiayaan banking system harus diperkuat yakni melalui loan agreement,” katanya.
Sebelumnya, Ketua Umum BPD HIPMI Jatim, Giri Bayu Kusumah menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi Jatim sangat kondusif berkat kepemimpinan Pakde Karwo. Ia mengingatkan bahwa potensi pasar dalam negeri harus dikuasai terlebih dulu sebelum menguasai pasar luar negeri. Untuk itu, BPD HIPMI Jatim terus berupaya memberi kontribusi positif bagi pererkonomian masyarakat Jatim. HIPMI juga fokus pada pertumbuhan wirausaha muda di Jatim, salah satunya melalui HIPMI perguruan tinggi di Jatim. Rencananya, akan dibentuk sekitar 50 HIPMI perguruan tinggi di Jatim untuk menggencarkan semangat berbisnis di kalangan mahasiswa.
Sementara itu, Ketua BPP HIPMI Pusat, Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa sebanyak 67 persen pertumbuhan ekonomi didorong oleh sektor konsumsi, dan sektor UMKM penolong ekonomi bangsa. Menurutnya, dibanding Gubernur lain, Gubernur Jatim yang paling fokus dalam mengembangkan masalah UMKM.
Ia menambahkan, saat ini jumlah pengusaha nasional masih 1,6 persen dari total seluruh penduduk Indonesia, padahal sebuah negara akan maju bila jumlah pengusaha nasionalnya lebih dari 2 persen. “Undang-Undang di negara kita membuat anak muda tidak tertarik menjadi pengusaha. Salah satunya termasuk soal susahnya proses peminjaman modal ke perbankan. UU ini kurang berpihak ke anak muda. Jadi pertama harus direvisi dulu UU Bank Indonesia. Saat ini, 83 persen anak muda lulusan perguruan tinggi ingin menjadi karyawan, dan baru 4 persen yang ingin jadi wirausaha muda. Ini yang harus jadi perhatian semua pihak, termasuk kami,” katanya.(cn01)












