“Pendidikan non formal, yaitu di TBM-TBM pojok baca kelurahan. Sedangkan ini yang formal. Jadi sekolah formal ini yang baru pertama kali, maka dicetuskan sekolah literasi. Kenapa sekolah literasi? Karena di SD ini ada enam literasi, salah satunya masuk. Semoga dengan adanya sekolah literasi ini, pemerintah pusat akan memberikan perhatian, terutama Pemerintah Kota kepada SD-SD. Jadi bukan hanya di perpustakaan. Mengertinya kalau sekolah itu perpusatakaan kalau sekarang literasi yang dapat memberikan manfaat pada sekitarnya. Jadi kalau perpustakaan disini ada, nanti warga juga bisa meminjam dan membaca buku,” jelas Yuqson.
Disebutkan Yusqon, setelah SD nanti maka yang akan didatangi adalah kelurahan dan kecamatan. “Kemarin kan Tegal Selatan di Pesurungan. Setelah ini Maret, nanti bulan Mei di Gramedia Rita Supermall, ulang tahun Gramedia. Unsur pojok baca masyarkaat dan sekolah akan kita kunjungi terus,” tutur Yusqon.
Sementara Kepala SD Sumurpanggang 2 Murwati, S.Pd yang baru tiga tahun menjadi Kepala Sekolah, melihat sekolah yang dipimpinnya kondisi perpustakaannya sangat memperhatinkan. Sehingga Murwati tergugah agar pembelajaran anak didik diperlukan buku dan literasi.
“Karena literasi sudah dari dulu ya, cuma belum tahu makna dan maksud literasi itu. Saya setelah kemarin mengikuti kegiatan undangan dari Pak Yusqon, saya baru “ngeh”, bahwa literasi seperti ini. Mulailah saya menggerakan, menggalakkan, memaksimalkan salah satunya perpus yang dibelakang tadi kan kurang memadai. Kedepan nanti saya akan merintis taman bacaan di depan sekolah, agar nanti masyarakat juga bisa membaca,” jelas Murwati.
Dengan adanya perpustakaan di SD Sumpang 2, Murwati mengaku ada perkembangan bagi anak didiknya. “Alhamdulillah waktu MAPSI untuk cerita Islam tingkat kota nomor 1 dan masuk ke Provinsi. Tapi sayang di provinsi kurang maksimal,” ungkap Murwati yang menyebut perpusnya baru memiliki 1.500 koleksi buku baik fiksi maupun non fiksi.












