Menristek mengatakan disrupsi teknologi terutama dalam bentuk berbagai macam inovasi sebenarnya bertujuan untuk meningkatkan produktivitas. Setiap peningkatan produktivitas pasti akan menimbulkan potensi ketimpangan karena ada yang bisa mengikuti langsung dan ada yang tidak bisa sehingga tertinggal. Perbedaan antara yang ikut dan tertinggal ini membuat ketimpangan jadi besar.
Supaya tidak membuat ketimpangan semakin besar, maka perlu ada upaya untuk disrupsi dan kemajuan teknologi itu bisa dinikmati oleh kelompok atau masyarakat yang lebih luas, salah satunya dengan spesialisasi kemampuan dan peningkatan kapasitas diri sesuai dengan kebutuhan dan tantangan zaman.
“Misalnya, bagaimana caranya mayoritas pekerja bisa mendapatkan manfaat dari kenaikan produktivitas tersebut. Mungkin apakah dia harus berubah jenis pekerjaan, atau merubah nature pekerjaan dari yang pendidikan umum jadi lebih yang spesifik, vokasi misalkan,” tutur Bambang.



