Beberapa waktu lalu, pemkot memang mengirim sekelompok pemain sepak bola muda berbakat untuk berlatih di Liverpool, Inggris. Setelahnya, pemkot kembali mengirim anak-anak ABK untuk belajar mandiri di Liverpool, Inggris, tepatnya di sekolah St.Vincent’s School, Liverpool. Wali Kota Risma pun menceritakan perjalanan mereka-mereka yang dikirim ke Liverpool berkat adanya sister city.
“Ini manfaatnnya sangat luar biasa. Salah satu contohnya anak ABK itu langsung bisa berjalan sendiri pakai tongkat setelah pulang dari Liverpool,” tegasnya.
Sedangkan indikator lainnya adalah bagaimana suatu daerah atau kota itu bisa menciptakan lingkungan yang mendukung. Sejalan dengan itu, salah satu dari banyak upaya yang dilakukan pemkot yakni membuat Kampung Pendidikan. Bagi dia, ini sebagai promotor KLA lantaran penduduk di Surabaya juga ikut mendukung pertumbuhan anak-anak.
“Bahkan, di salah satu kampung, pada jam-jam tertentu anak-anak diwajibkan untuk belajar. Mereka sepakat untuk mematikan televisi secara serentak,” imbuhnya.
Upaya berikutnya yakni membudayakan kembali permainan tradisional untuk anak-anak. Bagi dia, cara itu sebagai salah satu strategi mengajarkan kepada anak-anak tentang budaya lokal serta upaya mengurangi kecanduan gadget. Untuk menunjang itu pula, Presiden UCLG ASPAC ini juga memastikan sudah membangun 524 lapangan olahraga dan 475 taman umum di Kota Surabaya. “Semua fasilitas ini dapat diakses siapa pun dan tidak dipungut biaya sepeser pun,” ujarnya.



