Dalam pertemuan tersebut, 6 orang perwakilan mahasiswa hadir. Namun mereka tetap menuntut untuk menemui Bupati Jember Faida.
“Kami sudah terlalu lama menunggu pak, kami hari ini ingin ditemui bupati. Dulu tidak ditemui, sekarang jangan sampai tidak ditemui,” ujar Roni salah seorang mahasiswa.
Perwakilan mahasiswa masih tetap ngotot untuk menemui Bupati Jember Faida.
“Tetapi sesuai perintah pimpinan melalui Sekretaris Pemkab, kami menerima aspirasi dan menemui adik-adik. Tapi untuk kewenangan, dan apakah aspirasi itu diterima, itu menjadi domain bupati. Saya hanya menjalankan tugas,” ujar Djamil kembali menjawab pernyataan mahasiswa.
Menurut para mahasiswa itu, pada tanggal 25 September, aksi mengenai pembentukan Gugus Tugas Reforma Agraria (GTRA) itu pernah dilakukan, tapi bupati tidak menamapakkan batang hidungnya.
“Minggu kemarin kami juga sudah hearing dengan DPRD, dan memang sudah berkali-kali disurati. Kami meminta bupati untuk benar-benar memperhatikan kami. Kader kami 5 pingsan dan luka-luka gara bentrok tadi, dan kami menolak minum karena sahabat saya di luar luka-luka,” kata Siti Hanidah aktivis mahasiswa lainnya, sekaligus menolak tawaran minum dari Kapolres.



