“Makanya, kami mencoba beralih dari transportasi perkotaan yang berpolusi ke angkutan umum dengan meluncurkan bus kota bernama Suroboyo Bus,” papar dia.
Selain diciptakan untuk membantu mengurangi emisi gas rumah kaca, pada saat yang bersamaan, bus ini juga berfungsi sebagai pengelolaan sampah plastik.
“Jadi pengelolaan sampahnya adalah penumpang membayar ongkos bus menggunakan botol plastik, dan itu mampu mengurangi sampah botol plastik di kota kami,” ungkapnya.
Wali kota perempuan pertama di Kota Surabaya itu juga membangun Park and Ride yang berfungsi memudahkan masyarakat berganti kendaraan. Misalnya dari sepeda motor ke bus, warga dapat menitipkan kendaraannya, bahkan bagi pejalan kaki pun juga disediakan jalur pedestrian yang bersih dan aman.
“Suroboyo Bus kami juga bisa mengangkut sepeda. Uji emisi reguler juga dilakukan dengan hasil hampir 90 persen kendaraan lulus uji emisi,” kata dia.
Di samping itu, untuk menjaga keseimbangan kota, berbagai bidang pun dilakukan. Salah satunya terus melakukan penanaman pohon, pembangunan taman, pelestarian hutan mangrove, pembuatan waduk dan menggelar car free day (CFD) setiap hari Minggu pagi.
“Itu upaya yang kami lakukan bersama masyarakat. Jumlah taman di kota kami mencapai 475 taman umum, luas mangrove 2.871 hektare dan total 72 waduk yang sudah dibangun di Kota Surabaya,” imbuh dia.











