“Sementara ini kita masih menggelar pertunjukan di sini, sebab sekali pertunjukkan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Untuk biaya, seperti sewa gamelan kita swadaya ‘urunan’ dan gaet beberapa relasi dari pengusaha di sekitar,” katanya.
Saat ditanya apakah ada keinginan untuk tampil di luar, Suwito menegaskan, bahwa jika memang ada tawaran, pihaknya mengaku siap. Akan tetapi, pihaknya menegaskan bahwa kesenian Ludruk Mustika Jaya ini tidak bertujuan untuk mencari keuntungan atau bisnis. Melainkan agar kesenian khas tradisional ini bisa tetap eksis di tengah Kota Metropolitan.
“Bahkan rencana kita ke depan akan membina anak-anak biar lebih menggenal kesenian ludruk. Tidak menutup kemungkinan nanti muncul Ludruk Anak Mustika Jaya,” kata Suwito yang juga menjabat Wakil Ketua RW 01 Kelurahan Ngagel Surabaya ini.
Di kesempatan yang sama, Camat Wonokromo Tomi Ardiyanto pun mengapresiasi kelompok Kesenian Ludruk Mustika Jaya ini. Sebab menurutnya, tidak semua orang punya kepedulian terhadap kesenian budaya asli Surabaya, salah satunya adalah ludruk.
“Saya lihat mereka itu untuk sekali tampil masih sewa semua, seperti gamelan dan propertinya. Makanya nanti kalau mereka bisa eksis dan konsisten terus, mungkin dari Disbudpar (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata) Surabaya bisa mulai memberikan perhatian,” kata Tomi di sela menghadiri pertunjukkan Ludruk Mustika Jaya.
Tomi menilai, selama tiga tahun berdiri, Ludruk Mustika Jaya sudah mulai bagus dan profesional. Namun, karena terkendala keterbatasan alat dan segala macam, mereka jarang untuk tampil.












