Walikota Surabaya Tri Rismaharini menari bersama masyarakat Papua saat Parade Surabaya Vaganza dalam rangka Hari Jadi Kota Surabaya
Selain menyandang predikat sebagai Kota Pahlawan yang sarat nuansa historis, Surabaya juga dikenal sebagai kota multi-kultural. Beragam etnis hidup berdampingan dengan harmoni. Keragaman itulah yang membentuk karakter Surabaya sebagai kota yang toleran. Menjadikan Surabaya rumah bersama. Rumah untuk semua.
Sejak era kerajaan, masa kolonial hingga pasca kemerdekaan, Surabaya selalu memegang peranan sebagai kota pelabuhan. Tak heran banyak pendatang dari daerah atau negara lain yang singgah, bahkan menetap di Surabaya. Dengan kata lain, sejak zaman dahulu hingga sekarang, warga Surabaya memang sudah terbiasa dengan keberagaman penduduk.
“Semuanya saling menghormati, kita buktikan di acara-acara seperti Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) kita bersatu terus, semoga kerukunan ini bisa jalan terus sampai akhir”
Chandra Wurianto Woo -Ketua Komunitas Tionghoa Surabaya-
“Di kawasan Ampel terdapat tiga komunitas besar, yakni Arab, Jawa dan Madura. Selama ini, belum pernah ada benturan antar komunal dari berbagai suku bangsa yang berbeda itu. Walaupun berbeda suku bangsa dan agama, tapi semua saling menghormati satu sama lain”
– Abdullah Muhammad Al Batati -Anggota Komunitas Arab di Ampel, Surabaya-
“Surabaya adalah tempat yang nyaman ditinggali oleh siapa pun. Baik warga asli maupun pendatang. Itu sangat terlihat sekali dalam kehidupan sehari-hari. Kota ini memberikan peluang yang sama bagi semua orang yang punya tekad untuk sukses”
Peter Frans Rumaseb -Ketua Ikatan Keluarga Besar Papua Surabaya (IKBPS)-