Bahkan, ke depannya bisa terjadi penurunan kesuburan tanah karena akumulasi dari banyak faktor di antaranya indek tanam yang tinggi, penggunaan pupuk an-organik yang kurang bijaksana, pemakaian pestisida berlebihan dan juga perubahan iklim. Bahkan, pengembalian kesuburan tanah akan makin sulit dilakukan bila kesuburan makin rendah, sehingga tindakan menjaga kesuburan tanah harus menjadi perhatian.
“Kami tingkatkan sinergitas karena kerjasama ini sangat membantu petani dalam permodalan, sehingga usaha ini bisa dikembangkan dan terus ada inovasi terbaik. Alhamdulillah saat ini serangan hama juga bisa dikendalikan, jadi ketimbang tahun lalu bagus tahun panen tahun ini,” ujar dia.
Ia juga menambahkan, Nganjuk merupakan daerah penghasil bawang terbesar ke dua di Indonesia setelah Brebes, Jawa Tengah. Pemerintah Kabupaten Nganjuk juga terus mendorong petani agar melakukan intensifikasi, mengingat luasan lahan yang tetap. Dengan intensifikasi, kendati lahan tetap hasil bisa dioptimalkan.
Bahkan, lanjut dia, dengan produksi bawang merah hingga sekitar 20 ton per hektare, lebih bagus ketimbang produksi tahun-tahun sebelumnya, di mana sebelumnya hanya sekitar 16 ton per hektare. Bahkan, BI memperkirakan produksi bisa antara 28 -29 ton per hektare. (an/wan)












