Untuk mengeluarkan karakter kopi, ujarnya, mulai dari pengolahan saat petik hingga roasting (menggoreng) bikin sensasi tiap kopi berbeda walaupun dengan jenis yang sama. Belum lagi jenisnya ada robusta dan arabika. “Dari tanah yang berbeda juga kualitasnya berbeda,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi Kab Bondowoso yang kini mulai berkembang karena kopi. “Jika dulu Bondowoso tertinggal, sekarang sudah lebih maju, karena industri kopinya juga berkembang,” tuturnya.
“Sekarang Jatim sudah bukan lagi sebagai tren follower tapi hatus menjadi trensetter. Modalnya sudah ada dari kopi yang dihasilkan dari ketinggian 900 meter bahkan sampai 1.600 meter di atas permukaan laut sudah banyak dihasilkan seperti di Argopuro dan Ijen,” tandasnya.(jnr/wan/afr/s)












