Sementara ciri keenam dapat diperhatikan bahwa konten yang paling sering dibuat hoaks biasanya terkait dengan golongan banyak orang, khalayak banyak, masalah yang umumnya semua orang punya, supaya cukup sekali menyebar akan terus mudah bergulir.
“Konten-konten tersebut seperti kesehatan, agama, politik, bencana alam, lowongan pekerjaan, penipuan berhadiah, peristiwa ajaib, juga bisa pakai sebutan umum yang banyak dipakai seperti ‘mama minta pulsa’ atau ‘bapak kirim paket’,” katanya.
Sedangkan ciri terakhir, umumnya hoaks sering ditambahkan dengan kalimat persuasif untuk melakukan satu tindakan sederhana.
“Contohnya seperti ‘sebarkan minimal ke 7 orang, Anda akan bahagia!’. ‘Bagikan info ini ke 10 orang lalu lihat mukjizat apa yang terjadi!. atau misalnya ‘Viralkan, Anda akan masuk sorga!”
Liza menyarankan untuk menangkal hoaks secara sederhana dapat dilakukan dengan tiga langkah yakni “copy paste”-kan informasi yang dicurigai hoaks, telusuri melalui internat, kemudian “capture” lalu bagikan hasil “screenshoot” yang menerangkan bahwa informasi tersebut hoaks.
Jika hoaks yang lebih kompleks kontennya, maka perlu lebih banyak upaya untuk mencari tahu informasi tersebut, seperti mencari tahu atau bertanya kepada sumber berita, mengkonfirmasi kepada ahlinya, dan bisa juga dengan membaca artikel atau jurnal terkait yang terpercaya.
“Kalau merasa masih resah gara-gara hoaks, jangan diam saja, adukan. Ini bisa mulai dari menggunakan fitur Report Status di sosial media atau dengan mengirimkan email ke aduankonten@mail.kominfo.go.id,” katanya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk semakin cerdas dalam mengolah informasi. (wan/ant)












