“Ciri kedua ada tautan palsu atau link yang aneh. Biasanya ada di alamat URL maupun di konten website yang dituju yang dibuat serupa tapi tak sama dengan yang asli,” katanya.
Liza menyarankan agar masyarakat untuk tidak menge-klik sama sekali karena kerap kali bisa menjadi “triger” diperamban/browser yang sudah disusupi malware.
“Ini sangat penting, peramban yang sering dipakai seperti Chrome atau Firefox juga harus rutin di-update untuk meminimalkan peluang celah ketidakamanan,” katanya.
Ciri ketiga, hoaks biasanya dibuat dengan bahasa dan gambar sederhana agar mudah menyebar lewat media-media sosial, group chat, dan lain-lain.
Apalagi kata dia, biasanya konten hoaks memiliki isu yang tengah ramai di kalangan masyarakat dan menghebohkan, yang membuatnya sangat mudah memancing orang membagikannya.
“Ciri keempat, agar lebih meyakinkan sering dilengkapi dengan data statistik dan angka palsu, nama dan alamat palsu, tautan yang juga palsu. Penting untuk kita semua menyadari data atau informasi sangatlah mudah dimanipulasi, apalagi di zaman sekarang dengan teknologi yang mumpuni,” katanya.
Ciri kelima biasanya ditunjukkan dengan logika yang tidak serasi misalnya ketika judul, gambar, atau keterangan tidak mendukung konten atau tidak terkait antara satu dengan yang lainnya.












