“Aksi tersebut merupakan pertunjukan kompilasi dari berbagai macam disiplin kesenian seperti tari, teater, musik, senirupa, film dan sastra, yang mencoba merespon kondisi dan kesibukan sebuah kota. Masing-masing pelaku mengekspresikan hasil renungannya dari kondisi kota yang kompleks, termasuk didalamnya persoalan ekonomi, politik, budaya, termasuk pula permasalahan akses (serbuan,red) informasi global,” jelas Wali Muhammad, Ketua Panitia pertunjukan ‘Kota dan Konstruksi Kesunyian’ dalam keterangan tertulis, Rabu (19/12/18).
Lebih lanjut Wali mengungkapkan, pertunjukan yang juga menampilkan aksi Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini itu dimaknai sebagai ruwatan -membarui ‘kekeliruan’ lama- baik alam maupun tangan manusia, agar memberikan daya hidup kemanusiaan dalam dinamika kesibukan kota. Mawas diri terhadap kapitalisasi dan komersialisasi kesenian yang selalu memikirkan untung rugi semata tanpa mengindahkan kesetaraan hak dan kesempatan.



