“Warga di sejumlah desa di tepian Bengawan Solo itu sumurnya mengering, disebabkan debit air sungai terpanjang di Pulau Jawa yang melintasi wilayah Bojonegoro menyusut. Total saat ini ada 430 desa/kelurahan di Bojonegoro membutuhkan air bersih,” ujarnya.
Sebagai informasi, Pemkab Bojonegoro mengalokasi anggaran sekitar Rp 200 juta dari APBD 2018 untuk pengadaan air bersih bagi warga masih belum habis sampai pertengahan November. Data di BPBD setempat mencatat kesulitan air bersih dialami sekitar 20.814 kepala keluarga (31.845 jiwa) di 117 dusun di 72 desa yang tersebar di 18 kecamatan. (wan/jn/luk)












